PENUTUPAN PRAKTIKUM PEKSOS SEKOLAH UMJ SEBAGAI JEMBATAN FORMAL MENUJU IMPLEMENTASI BUDAYA SEKOLAH AMAN DAN NYAMAN

Penutupan Praktikum 1 Peksos Sekolah UMJ di SMP Muhammadiyah 17 Ciputat diakhiri MoA kerjasama 22 Januari 2026. Jembatan formal implementasi BSAN Permendikdasmen Nomor 4 dan 6 tahun 2026 selaras 7 KAIH menuju budaya sekolah aman nyaman melalui kolaborasi prodi universitas dan satuan pendidikan.

PENUTUPAN PRAKTIKUM PEKSOS SEKOLAH UMJ SEBAGAI JEMBATAN FORMAL MENUJU IMPLEMENTASI BUDAYA SEKOLAH AMAN DAN NYAMAN

Di Aula SMP Muhammadiyah 17 Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Kamis 22 Januari 2026 menjadi saksi penutupan Praktikum 1 yang penuh makna bagi praktikan Pekerja Sosial Sekolah dari Program Studi S1 Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta. Acara yang dihadiri praktisi pekerja sosial sekolah Indonesia Bapak Muhammad Nurman Novian S.Sos. M.Kesos. Gr. dan dosen pembimbing praktikum 1 UMJ Ibu Sokhivah S.Sos. I. M.Si. bukan sekadar seremoni penutup, melainkan momen haru ketika mahasiswa berbagi pengalaman mentah dari koridor sekolah, ditutup dengan penandatanganan MoA kerjasama antara prodi dan sekolah. Langkah formal ini bukan akhir perjalanan, tapi permulaan jembatan kokoh menuju budaya sekolah aman dan nyaman melalui implementasi nyata Bimbingan dan Layanan Sosial Anak (BSAN) sesuai Permendikdasmen Nomor 6 dan 4 Tahun 2026, selaras dengan ritme Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH).

Refleksi Lapangan yang Menyentuh Jiwa Anak

Penutupan Praktikum 1 bukan sekadar formalitas administratif, melainkan panggung emosi ketika praktikan berbagi cerita mentah dari bangku sekolah. Ada mahasiswa yang mata berkaca kaca mengenang sesi konseling pertama dengan siswa korban perundungan, ada pula yang berbagi kelegaan berhasil mediasi konflik orang tua guru, dan tak sedikit yang akui belajar kesabaran dari anak yang sulit terbuka. Kehadiran Bapak Muhammad Nurman Novian sebagai praktisi lapangan dan Ibu Sokhivah sebagai dosen pembimbing menambah bobot emosional, ketika mereka beri masukan berharga dari dua sisi pengalaman.

SMP Muhammadiyah 17 Ciputat berubah dari sekadar lokasi praktik menjadi laboratorium hidup tempat teori bertemu realitas kasat mata. Momen ini tunjukkan kekuatan praktikum lapangan. Mahasiswa yang datang dengan buku teori kini pulang membawa bekal empati terasah, metodologi teruji, dan keyakinan bahwa pekerja sosial sekolah adalah profesi esensial untuk budaya sekolah aman. Penutupan bukan berarti berpisah, melainkan janji untuk kembali dengan kapasitas lebih baik melalui kerjasama formal yang baru lahir.

MoA Kerjasama Fondasi Institusional Budaya Sekolah Aman

Penandatanganan MoA antara Prodi S1 Kesejahteraan Sosial UMJ dan SMP Muhammadiyah 17 Ciputat adalah terjemahan konkret Permendikdasmen Nomor 6 dan 4 Tahun 2026 tentang BSAN. Dokumen ini bukan kertas mati, melainkan komitmen institusi untuk wujudkan budaya sekolah aman dan nyaman melalui layanan sosial profesional. MoA pastikan pasokan praktikan terstruktur, supervisi berkelanjutan oleh figur seperti Ibu Sokhivah, dan evaluasi berbasis outcome, ciptakan siklus pembelajaran dua arah antara akademik dan praktik.

Kerjasama ini jawab kebutuhan mendesak implementasi BSAN. Sekolah dapatkan tenaga peksos terlatih gratis melalui mahasiswa yang dibimbing praktisi seperti Bapak Nurman Novian, prodi sediakan laboratorium praktik autentik, siswa dapatkan layanan profesional untuk iklim belajar aman, dan pemerintah daerah punya model kolaborasi PPPK pendidikan kesejahteraan sosial. Penandatanganan di Ciputat jadi blueprint untuk ribuan sekolah lain di Indonesia.

Sinkretisme 7 KAIH dan Praktik Peksos untuk Sekolah Nyaman

Penutupan praktikum dan MoA selaras sempurna dengan 7 KAIH Kemendikdasmen. Praktikan yang dampingi siswa bangun pagi terapkan "bangun pagi", sesi konseling kelompok olahraga wujudkan "berolahraga", mediasi orang tua praktikkan "bermasyarakat". Saat mahasiswa bantu siswa susun jadwal belajar sehat, mereka implementasikan "gemar belajar" dan "tidur cukup". BSAN melalui peksos sekolah jadi pendamping organik 7 KAIH, pastikan kebiasaan hebat terwujud dalam iklim sekolah aman dan nyaman.

Praktikum di SMP Muhammadiyah 17 Ciputat jadi laboratorium mini implementasi regulasi ganda ini. Mahasiswa belajar integrasikan pendekatan sosial dalam ritme 7 KAIH dengan bimbingan Ibu Sokhivah, sekolah dapatkan bukti bahwa BSAN tingkatkan kepatuhan kebiasaan sehat siswa dalam lingkungan belajar yang aman seperti yang dipraktikkan Bapak Nurman Novian, orang tua pahami peran peksos dalam karakter anak. Sinergi ini jawab pertanyaan krusial. Bagaimana 7 KAIH berjalan tanpa pendamping sosial profesional di sekolah nyaman?

Ciputat Titik Balik Pendidikan Inklusif yang Aman

Penutupan Praktikum 1 di SMP Muhammadiyah 17 Ciputat adalah lebih dari seremoni. Ia simbol pergeseran paradigma menuju budaya sekolah aman dan nyaman. Peksos sekolah bukan lagi tambahan ekstrakurikuler, tapi komponen struktural pendidikan sesuai BSAN 2026. MoA yang ditandatangani jadi perjanjian saksi bahwa akademik dan sekolah siap kolaborasi sistematis demi kesejahteraan anak, disaksikan praktisi dan dosen berpengalaman.

Momen 22 Januari 2026 akan dikenang sebagai hari ketika Ciputat jadi saksi lahirnya model pendidikan inklusif baru yang aman. Mahasiswa pulang bukan hanya dengan sertifikat praktikum, tapi keyakinan profesi mereka dibutuhkan untuk iklim sekolah nyaman. Sekolah tak lagi bertanya "untuk apa peksos", tapi "kapan praktikan berikutnya datang". Regulasi BSAN dan 7 KAIH tak lagi kertas di meja menteri, tapi gerak nyata di koridor sekolah.

Panggilan untuk Ekosistem Pendidikan Sekolah Aman

Penandatanganan MoA Ciputat adalah undangan terbuka. Prodi pekerjaan sosial sediakan praktikan terstruktur, sekolah buka pintu kolaborasi BSAN, dinas pendidikan fasilitasi anggaran, orang tua dukung intervensi sosial anak. Satu praktikum di SMP Muhammadiyah 17 Ciputat bantu puluhan siswa ciptakan iklim aman, satu MoA lahirkan ratusan praktikum tahunan, ribuan MoA nasional bentuk sistem peksos sekolah profesional untuk budaya sekolah nyaman.

Kiprah UMJ dan SMP Ciputat tunjukkan bahwa perubahan menuju sekolah aman dan nyaman dimulai dari komitmen lokal yang selaraskan regulasi nasional. Hari itu bukan akhir praktikum, tapi awal era baru ketika sekolah Indonesia punya penjaga hati profesional untuk dampingi ritme 7 KAIH menuju generasi yang belajar dalam iklim aman dan nyaman.

Share